Beranda | Artikel
Tafsir Surah Al-Infitar (Bag. 1): Wahai Manusia, Apa yang Membuat Kalian Durhaka kepada Allah?
8 jam lalu

Surah Al-Infithar adalah surah Makiyah yang teletak setelah surah At-Takwir. Dinamakan dengan surah Al-Infitar atau “sesuatu yang terbelah” karena dibuka dengan ayat pertama yang menyebutkan langit yang terbelah pada hari kiamat. Surah ini adalah surah nomor 82 dalam urutan mushaf. Adapun dalam urutan turunnya, maka surah ini turun sebelum surah An-Naziat dan setelah surah Al-Insyiqaq.

Surah ini dimulai dengan pembicaraan tentang kejadian-kejadian luar biasa nan mengerikan yang terjadi di langit dan bumi pada hari kiamat. Setelah itu, Allah menjelaskan tentang kedurhakaan dan kekufuran manusia kepada nikmat yang telah Allah anugerahkan. Kemudian Allah jelaskan tentang sebab mengapa manusia menentang Rabb mereka, yaitu karena mengingkari adanya hari pembalasan.

Allah juga menjelaskan bahwa catatan amal manusia senantiasa terjaga oleh malaikat sampai pada hari dilaksanakannya persidangan, yaitu hari kiamat. Kemudian Allah berbicara tentang manusia yang terbagi menjadi dua kelompok pada hari kiamat, yaitu yang selamat dan yang binasa. Terakhir, Allah menutup surah ini dengan peringatan atas datangnya kiamat, serta manusia akan dihisab satu persatu, sendiri-sendiri di hadapan Allah Ta’ala.

Di antara keutamaan surah Al-Infithar adalah Nabi pernah menjelaskan bahwa barangsiapa ingin melihat gambaran kiamat seakan-akan hal itu terjadi di depan matanya, maka bacalah surah ini. Keutamaan yang lain adalah surah ini menjadi salah satu surah yang Nabi ajarkan kepada sahabat Mu’adz bin Jabal untuk dibaca saat salat Isya jika ingin memanjangkan berdirinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اِذَا السَّمَاۤءُ انْفَطَرَتْۙ

“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Infiṭār: 1)

Allah memulai surah ini dengan menjelaskan apa yang terjadi pada langit ketika hari kiamat tiba. Pada hari itu, hari kiamat yang hanya Allah yang tahu kapan terjadinya, langit akan hancur dan terbelah. Terbelahnya langit ini agar para malaikat bisa turun menuju bumi, sebagaimana dalam surah Al-Furqan ayat 25,

وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاۤءُ بِالْغَمَامِ وَنُزِّلَ الْمَلٰۤىِٕكَةُ تَنْزِيْلًا

“(Ingatlah) hari (ketika) langit pecah mengeluarkan kabut putih dan malaikat diturunkan (secara) bergelombang.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْۙ

“Apabila bintang-bintang jatuh berserakan.” (QS. Al-Infiṭār: 2)

Pada hari kiamat, bintang-bintang yang berada di langit jatuh berserakan, saling berjatuhan, satu saling menabrak yang lain, berhamburan, semua karena Allah telah mencabut garis edarnya yang stabil selama jutaan tahun. Mereka lepas dari garis edarnya kemudian berjatuhan.

Pada ayat ini, terdapat gaya bahasa isti’arah makniyyah (استعارة مكنية), yaitu bentuk metafora yang tersirat. Di sini, lafal al-kawakib atau bintang-bintang diserupakan dengan kalung permata yang untaian benangnya putus sehingga rontok tercerai-berai dan berhamburan ke berbagai arah. Akan tetapi, obyek penyerupaan -yaitu kalung mutiara- dihapus dari redaksi kalimat, hanya disisakan qarinah atau suatu sifat intrinsik yang hanya dapat melekat pada kalung mutiara, yaitu انْتَثَرَتْۙ atau berserakan.

Maka, bintang-bintang yang kita lihat berada dengan sangat rapi pada garis edar dan gugusannya, akan berjatuhan tercerai-berai kemudian berserakan, seperti berserakannya kalung mutiara yang ditarik kemudian putuslah benangnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْۙ

“Apabila lautan diluapkan.” (QS. Al-Infiṭār: 3)

Kejadian mengerikan juga terjadi di bumi ketika kiamat datang, di antaranya adalah lautan diluapkan. Artinya, satu laut digabungkan dengan laut yang lain, serta air tawar digabungkan dengan air asin, sehingga melebur dan jadilah hanya ada satu lautan besar. Setelah lautan bersatu, kemudian dinyalakan api dari dalam, sehingga berkobar, meluap-luap, mendidih, seakan hamparan api yang menghanguskan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاِذَا الْقُبُوْرُ بُعْثِرَتْۙ

“Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar.” (QS. Al-Infiṭār: 4)

Pada hari itu, Allah membalikkan tanah yang ada di bumi, bagian atasnya menjadi bagian bawah, bagian bawahnya menjadi bagian atas. Setelah itu, dikeluarkanlah jenazah dari kubur mereka, lalu dimasukkan kembali ruh pada jasadnya agar bisa dilakukan pertanggungjawaban amal.

Kemudian setelah disebutkan empat hal yang terjadi di hari kiamat dengan bentuk syarat atau dengan redaksi “apabila terjadi hal ini dan hal itu”, maka setelah ini Allah memberikan keterangan tentang apa yang akan terjadi setelahnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَاَخَّرَتْۗ

“Setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikan(-nya).” (QS. Al-Infiṭār: 5)

Pada hari itu manusia tesadar, teringat, dan mengakui segala hal yang telah dilakukannya di dunia. Dirinya ingat perbuatan dan amal yang dilakukan semasa di dunia, baik amal-amal yang dirinya bersegera melakukannya, atau terlambat dia kerjakan karena malas, atau bahkan yang lengah (lalai) sehingga tidak dia kerjakan. Semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.

Momen manusia mengetahui amal apa yang telah dia kerjakan dan telah dia lalaikan adalah ketika lembaran catatan amal dibagikan dan dibuka oleh masing-masing orang. Pada saat ini, seorang hamba mengetahui dengan pengetahuan yang rinci atas semua amalnya. Adapun pengetahuannya secara global atau garis besar apakah dia selamat atau tidak, sebenarnya sudah didapatkannya sejak masa pembangkitan dari kubur. Sebab pada masa ini, manusia yang saleh telah mendapatkan tanda-tanda kebahagiaan, sedangkan manusia yang jelek amalnya telah melihat tanda-tanda kesengsaraannya. Akan tetapi, pengetahuan terperinci tentang amalnya baru akan dia peroleh ketika catatan amal dibagikan.

Pendapat dalam tafsir yang lain mengatakan bahwa makna قَدَّمَتْ adalah amal-amal yang membuatnya maju menuju surga berupa amal-amal ketaatan, dan makna وَاَخَّرَتْۗ adalah amal-amal yang membuatnya mundur dari surga menuju neraka, berupa amal-amal maksiat. Karena sejatinya, manusia sedang berjalan pulang; jika dirinya beramal saleh, maka dirinya sedang berjalan maju ke surga, karena memang itu adalah kampung halaman kita. Adapun jika dirinya beramal maksiat, maka dia akan mundur menuju neraka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيْمِۙ

“Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Mulia.” (QS. Al-Infiṭār: 6)

Setelah manusia dibangkitkan dari kubu mereka, serta mereka telah mengetahui bagaimana catatan amal mereka, tanda-tanda kebahagiaan atau kesengsaraan juga telah jelas terlihat, maka pada ayat ini Allah mencela orang-orang yang durhaka kepada-Nya, lalai dari taat kepada-Nya, tidak bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Rabb semesta alam.

Pendapat yang kuat menyatakan bahwa ayat ini tidak tertuju khusus kepada orang-orang yang kafir dan musyrik saja, akan tetapi bahkan tertuju kepada semua orang yang melakukan maksiat, baik itu seorang muslim yang tidak menjalankan ketaatan dengan baik atau menerjang larangannya karena menuruti hawa nafsu.

Bentuk kalimat pertanyaan di sini bukanlah bentuk kalimat yang membutuhkan jawaban, akan tetapi bentuk tahdid atau ancaman. Fudhail bin Iyadh rahimahullah memberikan perenungan, “Bayangkan, jika Allah menghadirkan hari kiamat tepat di depan wajahmu, kemudian bertanya apa yang menyebabkan engkau durhaka kepada Rabb yang Maha mulia? Maka, apa yang akan engkau jawab?”

Dalam ayat yang indah sekaligus mencekam ini, Allah mendahulukan penyebutan namanya, yaitu Ar-Rabb, kemudian baru disusulkan dengan nama Al-Karim (Yang Maha mulia). Lalu, apa rahasianya?

Allah pertama menyebutkan kata Rabb, yang artinya tuhan atau pencipta dan pengatur alam raya untuk mengingatkan manusia bahwa mereka hanyalah makhluk yang diciptakan dan dimulai dari ketiadaan. Hal ini menunjukkan makna penciptaan dan penjagaan manusia. Kemudian disusul dengan Al-Karim (Yang Maha mulia dan Maha dermawan), sebagai bentuk pengingat terhadap berbagai nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia, yang seyogyanya manusia mensyukurinya dengan bentuk kepatuhan yang tulus kepada Allah, bukan malah menggunakan nikmat tersebut untuk durhaka kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِيْ خَلَقَكَ فَسَوّٰىكَ فَعَدَلَكَۙ

“Yang telah menciptakanmu, lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)-mu seimbang?” (QS. Al-Infiṭār: 7)

Allah Ta’ala kemudian menyebutkan beberapa kenikmatan yang seharusnya disadari oleh manusia. Allah telah menciptakan manusia dari ketiadaan, lalu menjadikan mereka sebagai makhluk yang sempurna serta proporsional, yang memiliki anggota tubuh yang sehat dan berfungsi baik, sehingga manusia dapat mendengar, melihat, serta berpikir.

Allah Ta’ala juga membuat manusia berkembang dan hidup dalam bentuk yang seimbang, memiliki postur tubuh terbaik dan terindah dari semua makhluk. Manusia hidup dengan tegak, seimbang, simetris, tidak berat atau panjang sebelah, serta memiliki fungsi tubuh paling ideal untuk menjadi khalifah dan pengelola muka bumi ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فِيْٓ اَيِّ صُوْرَةٍ مَّا شَاۤءَ رَكَّبَكَۗ

“Dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun (tubuh)-mu.” (QS. Al-Infiṭār: 8)

Allah membentuk manusia dan menyusun anatomi tubuh mereka sesuai dengan kehendak-Nya, berupa susunan tubuh yang indah dan mengangumkan, kompleks dan berfungsi dengan sempurna. Sampai sebagian cendekiawan mengatakan bahwa manusia adalah semesta mikroskopis karena sangat kompleksnya anatomi serta fungsi tubuh mereka. Allah juga tidak membuat manusia berbentuk seperti binatang dengan berjalan menggunakan empat kaki atau bahkan melata seperti ular.

Seandainya manusia mau merenungi nikmat yang luar biasa ini, kemudian sadar betapa besar kasih sayang Allah kepada mereka, pastilah manusia akan mengerahkan semua daya dan upayanya untuk tunduk patuh, bersyukur, menyembah kepada-Nya, Rabb semesta alam.

[Bersambung]

LANJUT KE BAGIAN 2

***

Penulis: Dany Indra Permana

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/


Artikel asli: https://muslim.or.id/115940-tafsir-surah-al-infitar-bag-1.html